antara mendung dan cerah
Selasa, 10 Januari 2012
Siang nanti akan diadakan sebuah ujian untuk kelasku. Mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar. Usai kelas Vocab, beberapa mahasiswa sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang berlari menuju kantin, toilet, sebagian ke perpustakaan, sebagian lainnya menuju tempat parkir mengambil motor mereka dan melaju entah kemana tanpa sempat aku menanyainya satu persatu.
Aku memutuskan kembali ke kosan, dan sahabat-sahabatku yang lain pun demikian. Kurang lebih lima jam lagi ujian untuk kelasku akan di mulai. Ku baca kembali materi pelajaran yang sempat ku catat sewaktu dosen IAD, Ilmu Alamiah Dasar, menjabarkan materinya didepan ruangan kelas. Tulisan tangan yang semraut karena kecepatan saat mencatat kata perkata yang di lontarkan oleh dosen itu sukses membuatku tertidur karena posisi belajar yang kupilih pun mendukung, bersandar di kasur empuk kamar kos ku. Rasa lapar kemudian membangunkanku. Ku lirik jam tangan yang masih melekat erat di lengan kananku. Seorang kakak kos menilai aku terlihat sombong dengan menggunakan jam tangan seperti itu. Tapi aku tak peduli penilaiannya terhadapku.
“yang jelas kan kenyataannya ga kayak gitu kak, lagian biar aja orang mikirnya gitu. Salah sendiri ngapain su’udzon sama aku.” Jawabku menyangkal penilaiannya terhadapku saat itu.
Pukul dua belas kurang sepuluh menit. Aku bangkit dari tidur dan menyelesaikan makan siang . tak lama kemudian adzan Zuhur berkumandang. Cuaca hari ini terasa panas. Usai mandi dan menunaikan sholat Zuhur, ini adalah kali kedua aku mandi pada hari ini, aku bersiap kembali ke kampus. Satu jam lagi ujian akan dimulai.
Persiapanku untuk kali ini cukup bagus ku rasa. Dengan langkah santai, aku berjalan menuju kampus yang tak jauh dari tempat tinggalku. Hanya menghabiskan waktu 10 menit berjalan kaki. Tapi cuaca yang panas kali ini membuatku merasakan ternyata kos-kosan yang ku pilih ini cukup jauh. Aku sedikit mempercepat langkah setelah sampai di depan Gedung Putih, Akama, Kantor tempat pengurusan segala keperluan civitas akademika. Tujuanku adalah gedung K berlantai lima. Kali ini kelas untuk ujian berada di lantai satu nomor delapan yang berarti aku harus menuruni sekitar 40 anak tangga menuju ruang ujian karena gedung kuliah yang satu ini dibangun dengan dua lantai dasar berada dibawah dan lantai ketiga merupakan lantai utama yang selalu dilalui para mahasiswa dan dosen kelantai berapapun tujuan mereka. Aku rasa ini cukup memudahkan bagi mereka-mereka yang seringkali memiliki keperluan di lantai empat dan lima sehingga tak perlu mendaki anak tangga begitu banyak karena belum adanya fasilitas lift pada kampusku ini.
“Hai Ami, tumben cepat ke kampus.” Seorang teman menegurku sesaat setelah sampai di ruang ujian. Vyona, gadis manis asli Batusangkar tamatan sebuah Sekolah Menengah Negeri di Batam yang ku kenal saat wawancara penerimaan mahasiswa baru. Vyona memilih melanjutkan pendidikan di daerah asalnya mengingat biaya kuliah di Batam yang tak sedikit, juga Ijazah yang tak di akui untuk daerah lain, hal itu kudengar saat aku berniat melanjutkan kuliah di Provinsi itu tapi urung karena mendengar berita itu dari seseorang yang ku kenal disana. Mengenai kebenarannya, aku belum bisa memastikan berita tersebut.
“iya nih, semangat ujian soalnya, hehe.” Jawabku sekiranya dan segera mengambil posisi yang ku pandang pas untuk pertempuran kali ini. Sembari menunggu teman-teman yang lain berdatangan, dan dosen penguji pastinya, aku menyempatkan diri berdiskusi dengan beberapa teman untuk menguatkan kembali memoriku tentang pelajaran-pelajaran yang telah ku baca beberapa hari sebelumnya. Para Akhwat kemudian datang. Seorang diantaranya bernama Riani. Dengan tampang murung dan cemasnya mendekatiku memilih posisi persis disampingku.
“Ukh, ana ga sempat belajar full nih. Cuma liat-liat sekilas tadi. Mana catatan ga lengkap. Wah bisa kacau ujian kali ini.” Curhatnya padaku.
“aku turut prihatin.” Ungkapku sedikit mengejek dengan nada serius. Ia hanya mengerlingkan mata mengetahui ejekanku.
“huhuhu… semoga ujian kali ini ga susah-susah amat. Please God, help me.” Menadahkan tangan dan menghapuskan ke wajahnya. Aku hanya tersenyum geli melihat kelakuan akhwat yang satu ini.
Sang penguji kemudian menampakkan wujudnya. Ah, detik-detik menegangkan seperti ini sudah lama sekali tak lagi ku rasakan setelah putus sekolah karena tak langsung melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Soal ujian dibagikan berikut lembar jawaban. Penguji kali ini mempertanyaan kebudayaan bangsa Mesir, Yunani, serta Romawi Kuno dan sumbangan mereka terhadap peradaban dunia. Dilanjutkan beberapa soal lainnya yang kurasa memang tak membelot dari pelajaran yang selama ini kami bahas. Aku merinci jawaban sebisaku. Beberapa soal lain pun demikian. Seorang teman menyikut kaki kiriku.
“Bantuin dong, nggak inget tadi yang dibaca.” Tampangnya memelas. Aku jadi kasihan. Aku memperlihatkan lembaran jawaban ujianku padanya. Jarak masing-masing bangku ujian yang tak begitu jauh dikarenakan banyaknya peserta ujian dan kelas tak begitu luas untuk memberikan jarak yang cukup bagus agar tak terjadi adegan contek menyontek antar mahasiswa yang kurang serius pada mata kuliah ini. Puas menyalin jawaban dariku, Riani melamparkan senyum tanda terimakasihnya. Senyum yang sangat lucu, pikirku.
“waaaaa, hebat ya soalnya. Bikin sakit kepala” celoteh Rahmi, seorang akhwat lain saat kami telah berkumpul disebuah tongkrongan para mahasiswa yang mereka sebut dengan Bundaran setelah ujian usai.
“iya lho, kelewatan soalnya. Aku aja minta bantuan Ami waktu ngerjain soal terakhir.” Riani menambahkan gambaran betapa sulit ujian yang baru saja kami lalui.
“antum mah masih syukur bisa nyontek Ami, ana pusing sendiri berusaha mengingat-ingat penjelasan Bapak itu waktu nerangin pelajaran.” Protes Zeeta pada Riani yang dia anggap masih beruntung bisa menyalin jawaban ujian dariku.
Ku alihkan pandangan pada Azkya yang hanya senyum-senyum dan sesekali mengangguk saat dimintai pendapat oleh para akhwat yang sibuk membahas soal ujian tadi. Tiada komentar yang meluncur dari bibirnya. Begitu juga aku.
“tapi, berkah ga sih ilmunya kalo ujiannya itu kayak yang barusan? Aku tadi nyontek Ami, nyesel banget. Aku janji, ini ga akan terulang lagi. Lain kali aku pasti ujian sendiri dan menjawab soal dengan baik. Ya, itu janjiku.”
Ucapan Riani kali ini membuatku tertawa.
“Hahaha, biasa aja kali Ri. Namanya juga kepepet. Kalo bisa minta bantuan dan ada yang mau bantu, kenapa nggak?”
Aku sedikit membenarkan perbuatan Riani yang sebenarnya ku tahu itu kebiasaan yang buruk. Sekian lama, contek mencontek saat ujian merupakan hal yang biasa bagiku. Terutama saat aku bisa memberikan jawaban soal ujian yang dianggap sulit dijawab oleh teman-teman, aku dengan senang hati dapat membantu mereka tanpa khawatir prestasi akademik u dikelas selama menempa pendidikan direbut oleh mereka. Tapi kali ini Riani seperti menyadarkan aku tentang satu hal yang penting yang selama ini tak mendapat perhatian khusus dariku. Akhirnya aku hanya bisa menyetujui ikrarnya. Aku ingin membuktikan, seberapa tangguh akhwat yang satu ini.
Langganan:
Postingan (Atom)